KASUS PEMBUNUHAN MUNIR
Munir Said Thalib, pejuang HAM
Indonesia, 10 tahun silam tewas diracun Arsenik dalam perjalanannya menuju
Amsterdam dari Jakarta. Berbagai kemungkinan pihak dibalik pembunuhan sampai
saat ini belumlah terungkap sepenuhnya. Aksi-aksi perjuangan pendiri KontraS
(Komosi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan) ini, Munir, menjadi ‘musuh
berbahaya’ bagi lawan-lawannya.
Kebencian para penguasa orde baru
terhadap gerakan ‘human right’ Munir sangatlah beralasan.
Mereka (penguasa) yang telah
semena-mena menindas, membunuh, dan membantai rakyat kecil mendapat perlawanan
keras dari Munir. Munir tanpa lelah terus mencari fakta dan realita untuk
mengungkap kasus-kasus pembantaian orang dan rakyat yang tidak berdosa.
Meskipun dirinya dan keluarganya menerima berbagai ancamam pembunuhan, Munir
tetap melangkahkan perjuangannya dengan darah jadi taruhannya.
Kematian Munir di pesawat Garuda
Indonesia pada 7 September 2004, menjadi kemenangan terbesar para penjahat
kemanusiaan di negeri ini. Ada begitu banyak deretan nama-nama penguasa Orde
Baru yang masih ‘berkeliaran bebas’ di negeri ini. Tidak hanya berkeliaran,
bahkan tidak sedikit dari mereka menjadi ‘pahlawan’ yang dinantikan oleh
masyarakat kita yang masih ‘melek realitas’.
Berikut ini
kronologi kasus kematian Munir:
6 September 2004 Pukul 21.55 WIB
6 September
2004 malam, di lobi Bandara Soekarno Hatta, Munir Said Thalib akan berpisah
dengan istrinya, Suciwati, selama satu tahun. Munir akan melanjutkan studi S2
hukum di Universitas Utrecht, Belanda. Pada saat ingin memasuki pintu
pesawat kelas bisnis, Munir bertemu Pollycarpus (anggota pilot senior
Garuda Indonesia yang saat itu sedang tidak bertugas). Munir dan Polly pun
bertukar tempat duduk. Munir duduk di kursi 3 K kelas bisnis, sedangkan Polly
duduk di kursi 40 G kelas ekonomi. Di depan toilet kelas bisnis, Polly bertemu
purser Brahmanie Hastawaty. Sebelum pesawat terbang, Yetti Susmiarti
dibantu Oedi Irianto (pramugari dan pramugara senior), membagikan welcome
drink kepada penumpang. Munir memilih jus jeruk.
Pukul 22.02 WIB, pesawat lepas landas. 15 menit setelah lepas landas, pramugari
membagikan makanan dan minuman kepada penumpang. Munir memilih mie goreng dan
kembali jus jeruk sebagai minumannya. Setelah terbang selama 1 jam 38 menit, pesawat
transit di bandara Changi, Singapura. Penumpang diberikan kesempatan
berjalan-jalan di bandara Changi selama 45 menit. Munir singgah ke Coffee
Bean. Polly bersama seluruh kru pesawat menuju ke hotel dengan menggunakan
bus.
Setelah selesai, Munir kembali ke pesawat. Di pintu masuk pesawat, Munir
bertemu dr. Tarmizi. Tarmizi duduk di kelas bisnis, sedangkan Munir
kembali ke tempat duduknya di kursi 40 G kelas ekonomi. Polly tidak lagi
melanjutkan perjalanan karena memang memiliki tugas di Singapura.
Pesawat lepas landas pukul 01.53 waktu Singapura. Kali ini awak pesawat
semuanya berbeda dari sebelumnya. Pramugari Tia Dwi Ambara menawarkan
makanan kepada Munir, tapi Munir menolaknya dan hanya meminta segelas teh
hangat. Tia pun menyajikan teh panas untuk Munir yang dituangkan dari teko ke
gelas di atas troli dilengkapi dengan gula satu sachet. Tiga jam pesawat
terbang, Munir mulai sering bolak-balik ke toilet. Ketika dia berpapasan dengan
pramugara Bondan, dia mengeluh sakit perut dan muntaber. Dia pun menyuruh
Bondan memanggil Tarmizi yang duduk di kelas bisnis sambil memberikannya kartu
nama Tarmizi.
Tarmizi pun terbangun dan bertemu dengan Munir. Munir menjelaskan kondisi
tubuhnya yang tampak sangat lemah dengan berkata, "Saya sudah muntah dan
buang air besar enam kali sejak terbang dari Singapura." Tarmizi melakukan
pemeriksaan umum dengan membuka baju Munir. Dia lalu mendapati bahwa nadi di
pergelangan tangan Munir sangat lemah. Tarmizi berpendapat Munir mengalami
kekurangan cairan akibat muntaber. Munir kembali lagi ke toilet untuk muntah
dan buang air besar dibantu pramugari dan pramugara. Setelah selesai, Munir ke
luar sambil batuk-batuk berat.
Tarmizi menyuruh pramugari untuk mengambilkan kotak obat yang dimiliki pesawat.
Kotak pun diterima Tarmizi dalam keadaan tersegel. Setelah dibuka, Tarmizi
berpendapat bahwa obat di kotak itu sangat minim, terutama untuk kebutuhan
Munir: infus, obat sakit perut mulas dan obat muntaber, semuanya tidak ada.
Tarmizi pun mengambil obat di tasnya. Dia memberi Munir dua tablet obat diare New
Diatabs; satu tablet obat mual dan perih kembung, Zantacts dan satu
tablet Promag. Tarmizi menyuruh pramugari membuat teh manis dengan
tambahan sedikit garam. Namun, setelah lima menit meminum teh tersebut, Munir
kembali ke toilet. Tarmizi menyuntikkan obat anti mual dan muntah, Primperam,
kepada Munir sebanyak 5 ml. Hal ini berhasil karena Munir kemudian tertidur
selama tiga jam. Setelah terbangun, Munir kembali ke toilet. Kali ini dia agak
lama, sekitar 10 menit, ternyata Munir telah terjatuh lemas di toilet.
Dua jam sebelum pesawat mendarat, Munir terlihat keadaan Munir: mulutnya
mengeluarkan air yang tidak berbusa dan kedua telapak tangannya membiru. Awak
pesawat mengangkat tubuh Munir, memejamkan matanya dan menutupi tubuh Munir
dengan selimut. Ya, Munir meninggal dunia di pesawat, di atas langit Negara
Rumania.
11 September 2004
Jenazah Munir tiba Pangkalan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh pada Sabtu (11/9)
tepat pukul 21.10. Jenazah almarhum dan rombongan pengantar diangkut dengan
Boeing 737 Merpati MZ-3300.
12 September 2004
Jenazah Munir, dimakamkan di Taman Pemakaman Umum, Kota Batu, Minggu. Pihak
kepolisian menyatakan dalam tubuh Munir terkandung zat arsenik yang melampui
batas normal.
17 November 2004
Kontras, Suciwati dan tim kepolisian akan berangkat ke Belanda meminta akta
otentik otopsi terhadap jenazah Munir.
Dalam tubuh Munir ternyata ditemukan zat arsenik yang melampaui batas
kewajaran. Ada kandungan racun arsenik 460 mg didalam lambung, 3,1 mg /ltr
dalam darah.’ Anehnya, setelah didalami oleh tim otopsi dari RSUD dr. Soetomo,
kandungan arsenik di dalam lambung begitu aneh, karena seharusnya kandungan
arsenik itu hancur. Ini terkesan mempertegas spekulasi jika kandungan arsenik
dalam tubuh Munir baru dimasukkan ketika jenazahnya sudah di Indonesia.
Spekulasi ini juga diperkuat dengan permintaan mereka untuk menahan lebih lama
organ tubuh Munir. Spontan ini juga menimbulkan indikasi bahwa hal itu
dilakukan agar organ tubuh Munir bisa dipersiapkan (dimark-up) agar benar-benar
akan terkesan keracunan arsenik ketika diperiksa oleh pihak lain. Disebutkan
juga ciri-ciri korban yang keracunan arsenik, antara lain: ada pembengkakan
otak, paru paru yang mengalami kerusakan, mulut keluar darah karena indikasi
kerusakan sistem pencernaan. Ketika arsenik masuk kedalam tubuh (dan racun
mulai bekerja), biasanya korban mengalami muntaber berat disertai
kejang-kejang.